Seminar Kebangsaan PMII Sunan Kudus : Waspada, Radikalisme Mengancam Kampus

KUDUS, Asisten I Bidang Pemerintahan Pemda Kudus Drs. Agus Budi Satrio, M.M membuka Seminar Kebangsaan PMII Komisariat Sunan Kudus (IAIN) di @HOM Hotel Kudus, Kamis (18/3/2021). Kegiatan itu dilakukan dengan penerapan protocol kesehatan yang ketat.

Seminar Kebangsaan PMII Komisariat Sunan Kudus (IAIN) mengusung tema “Peran Mahasiswa Sebagai Control of Sosial Dalam Menangkal Faham Radikalisme”. M. Naili Riski selaku Ketua Umum Pengurus Komisariat PMII Komisariat Sunan Kudus (IAIN) menyatakan bahwa kegiatan ini dilakukan sebagai salah satu bentuk pembentengan kampus dari pengaruh faham radikalisme dan terorisme seiring dengan adanya indikasi bahwa virus radikalisme dan terorisme yang sudah mulai masuk di kampus.

Dalam kegiatan tersebut pihaknya menghadirkan Dr. Muhaimin, S.H.I – akademisi yang lahir dari lingkungan pesantren dan IPTU Subkhan, S.H., M.H – praktisi sekaligus penulis Buku MENCEPIT – Menutup Celah Penyebaran Ideologi Teroris. Kedua narasumber tersebut dinilai relevan dengan tema dan berkompeten sesuai bidang keilmuannya, sehingga diharapkan setelah mengikuti kegiatan para mahasiswa akan memiliki imun yang kuat dan tidak mudah terpapar faham radikalisme.

Dr. Muhaimin mengawali materi dengan menyatakan bahwa kegiatan seperti ini menjadi sangat penting karena salah satu tantangan gerakan remaja Muslim Indonesia adalah adanya potensi paham radikal yang sudah ada sejak dini pada mereka. Tingkat radikalis sudah melekat pada paradigma berpikir remaja SMA yang seharusnya masih mempelajari berbagai wacana, ilmu, dan ideologi. Fakta tersebut dikuatkan dengan adanya fakta bahwa terdapat 10 perguruan tinggi negeri (PTN) di Indonesia terpapar paham radikalisme.

“Mahasiswa yang tidak memiliki latar belakang keagamaan yang kuat, justru merekalah yang memiliki semangat belajar keagamaan yang cukup tinggi. Ironisnya, semangat tersebut justru ditangkap oleh kelompok radikal, sehingga mahasiswa mudah terdoktrinasi dan terjebak dalam ajaran radikal. Solusinya tentunya kampus harus memberikan fasilitas belajar keagamaan yang proporsional kepada mahasiswa, terutama untuk menampung mereka yang sesungguhnya memiliki semangat belajar agama cukup tinggi, sekalipun tidak memiliki latar belakang keagamaan yang kental, sehingga mereka tidak belajar agama kepada kelompok radikal dan eksklusif yang berbahaya,” imbuhnya.

Ditempat yang sama, IPTU Subkhan menyampaikan bahwa untuk dapat menangkal faham radikalisme maka kita harus mengenalinya, sehingga ketika faham radikalisme berubah bentuk kita akan tetap mampu menangkalnya.

“Era globalisasi yang ditandai peningkatan iptek, saat ini menjadi potensi paling efektif berkembangnya faham radikal dalam bentuk propaganda. Bukan karena banyaknya mereka namun karena mereka menguasai dunia maya, sedang kita yang jumlahnya jauh lebih besar lebih banyak diam,” jelasnya.

Untuk itu mahasiswa dan pergerakannya harus mampu mengimbangi mereka dalam wujud nyata dalam pembentengan masyarakat, bukan sekedar konsep dan teoritis saja,” imbuhnya.

“Mengutip kata bijak budayawan dari Madura, lebih baik dubur ayam yang mengeluarkan telur daripada mulut intelek yang hanya berjanji akan memberikan telur. Artinya kita semua dituntut untuk berkontribusi secara nyata bukan hanya teori semata, karena itu lebih mulia,” pungkasnya.