IPTU Subkhan : Beragama Yang Baik Mewujudkan Kesalehan Pribadi, Kesalehan Sosial Dan Kesalehan Bernegara.


KUDUS (25/03/2021), “Peran Organisasi Kemahasiswaan Dalam Menjaga Kebhinekaan Untuk Mewujudkan Kerukunan, Persatuan dan Kesatuan Bangsa” menjadi tema Diskusi Publik yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Kudus di @HOM Hotel Kudus.

Akmat Ansori selaku ketua panitia menyampaikan bahwa kegiatan diskusi publik diselenggarakan bersamaan dengan pelantikan Pengurus HMI Cabang Kudus periode 2021-2022 dan dibuka oleh Dr. H. Hartopo, S.T., M.M., M.H (Plt. Bupati Kudus) dan menghadirkan narasumber IPTU Subkhan, S.H., M.H (Kepala Unit Keamanan Khusus Satintelkam Polres Kudus) dan Dr. Adri Efferi, M. Ag (Wakil Direktur Pasca Sarjana IAIN Kudus).

“Pemda Kudus mengapresiasi keberadaan dan eksistensi HMI di Kudus, diharapkan kedepan akan terus dapat meningkatkan sinergi dengan pemerintah dengan memberikan saran, masukan serta sifat kritisnya” kata Dr. H. Hartopo dalam sambutannya yang dibacakan oleh Drs. Agus Budi Satrio, M.M (Asisten I).

IPTU Subkhan, penulis Buku Menutup Celah Penyebaran Ideologi Teroris (MENCEPIT) mengawali materinya dengan menjelaskan bahwa saat ini ancaman nyata terhadap kerukunan, kebhinekaan, persatuan dan kesatuan adalah penyebaran berita hoak dan radikalisme. Keduanya begitu nyata namun kita terkadang tidak menyadarinya dan bahkan kitapun masih under estimate terhadap pengaruhnya.

Menurut IPTU Subkhan, social media berperan besar atas informasi yang begitu cepat termasuk atas informasi yang bersifat hoak. Informasi hoak sulit dibendung walaupun didalamnya penuh dengan ujaran kebencian, hasutan, propaganda anti pemerintah dan anti Pancasila, terlebih bila hoak tersebut dibungkus dengan ajaran agama. Hoak semakin mengekskalasi dan mengikis nilai-nilai kebhinekaan dan toleransi. Dewasa ini banyak sekali orang yang mengaku paling beragama namun malah menyebarkan ujaran kebencian, cacik maki serta hujatan termasuk kepada pemerintah dan hukum negara ini. Mereka tidak banyak namun massif, terstruktur dan systematis dalam bergerak, 24 jam tanpa henti terutama di medsos.

“Agama mengajarkan umatnya untuk mewujudkan harmoni dan keteraturan social sebagai bagian dari indicator “kesalehan pribadi” dan “kesalehan social”, termasuk dalam sikap beragama yang baik adalah dengan mentaati hukum serta peraturan sebagai bentuk “kesalehan bernegara,” sehingga beragama yang baik adalah yang berkomitmen mewujudkan maqosyid syariah dengan mematuhi aturan hukum dan bukan sebagai pembangkang”, tutur IPTU Subkhan.

“Beragama tidak boleh diartikan sekedar sebagai prosesi ritual formal saja. Lebih dari itu, beragama khususnya pemeluk agama Islam tentunya juga tidak hanya mempelajari tentang aqidah dan fiqih saja, namun juga harus mempelajari tentang tasawuf. Ketiganya seiring sejalan dan seimbang sehingga akan terjadi kestabilan. Bila hanya mempelajari aqidah dan fiqih saja maka kita akan berpotensi menjadi seorang yang berpaham radikal dengan fanatic dan intolerannya. Bila kita mempelajari aqidah saja maka kita hanya akan fokus untuk mengenal Tuhan, dan bila kita mempelajari fiqih saja maka kita hanya akan berkutat pada aturan, berusaha memahami benar dan salah saja. Untuk itu kita dituntut juga untuk mempelajari tasawuf agar kita menjadi bijak dan mengenal akhlak yang baik penuh dengan toleransi” jelasnya.

Selain itu, ia menyebutkan bahwa saat ini kita harus menerima realita dilapangan, bahwa anak usia dini sudah dipaksa menelan berita hoak dan ideologi radikal dari oknum-oknum yang memanipulasi agama untuk menentang hukum dan aturan serta negara. Hal ini sangat berbahaya karena saat dewasa nanti akan menjadikan mereka seperti buah matang yang siap dipetik, ketika ditanamkan kebencian dan dipoles dengan ayat jihad maka mereka menjadi siap untuk melakukan amaliyahnya. Diperlukan langkah cepat, cerdas, terukur, terencana, terkoordinasikan dan masal guna menghadapi penyebaran berita hoak dan paham radikalisme.

Mengakhiri materinya IPTU Subkhan mengutip kata bijak dari Gus Mus yang menyatakan bahwa “kita damai bukan karena agama, namun karena budaya”. Artinya apapun agamamu kalau budaya kita rukun maka kedamaian akan terwujud, namun ketika agama kita samapun tapi budaya kita tidak rukun, suka berselisih dan berperang maka kedamaian tidak akan terwujud. Untuk itu pelajarilah aqidah, fiqih dan tasawuf sehingga kita akan harmoni dalam menjalani kehidupan, sukses di dunia dan sukses di akhirat.

Dalam materinya Dr. Adri Efferi menyampaikan tentang mahasiswa sebagai transsetter pemuda untuk mewujudkan kerukunan, persatuan dan kesatuan bangsa.

Pelaksanaan diskusi publik berlangsung interaktif dan ditutup dengan diskusi tanya jawab terkait materi yang ada.